Selasa, September 24, 2019

Mengajar yang Disukai Siswa dan Otak

Niki Ali Akbar

Mengajar yang Disukai Siswa dan Otak

“Berhenti mengajar jika cara mengajar Anda tidak sesuai dengan cara kerja otak siswa.”
Mengajar yang Disukai Siswa dan Otak

Pengajaran yang Disukai Siswa, Rahasia Guru Super

Sederhana saja : Sekolah bukan kumpulan dari hewan, tetapi manusia. Institusi sekolah adalah kumpulan peserta didik yang sedang berada pada usia tumbuh kembang untuk belajar. Gravitasi belajar siswa berpusat pada otak, bukan dengkulnya. Guru Super adalah ketika guru mengajar siswa mengalami proses belajar. Ingat! Guru mengajar, belum tentu peserta didik belajar. Bisa jadi saat guru mengajar peserta didik asyik melamun atau tidur. Mengajar dan belajar adalah dua proses yang berbeda.

Bisa saja guru mengajar hingga berbusa-busa mulutnya, namun peserta didik tidak mengerti apa yang disampaikan guru, atau bisa saja guru mengajar, peserta didik “ngelamun ndak jelas”. Dalam pembelajaran, hak paling asasi peserta didik adalah ketika guru mengajar sesuai dengan gaya belajar dan modalitas belajar peserta didik. Guru harus tahu ini, bahwa hak mengajar itu ada di tangan peserta didik, bukan di tangan guru. Yang perlu dilakukan guru adalah “merebut” hak mengajar itu, sebut Mustofa Jufri, seorang psikolog manusia. Bagaimana caranya? Caranya, puaskan otak reptil peserta didik terlebih dahulu, ajar peserta didik sesuai gaya belajar dan modalitas belajarnya, dan masukkan informasi pengetahuan lewat jendela (lobus) kecerdasan peserta didik yang terbuka lebar.

Mengapa harus seperti itu caranya? Mari kita tengok berikut ini: Tuhan Yang Maha Pencipta, memberikan kita seperangkat mesin bernama otak. Karena dengan otak manusia menjadi pandai, kecuali otak tersebut rusak secara medis. Pendapat ilmiah dari Jef Hawkins dan Sandra Blakeslee menyebut otak manusia tidak ubahnya seperti mesin penghasil kecerdasan, dan manusia menjadi genius ketika mesin itu bekerja dengan mekanisme naturalnya.

Di sekolah Anda, adakah peserta didik Anda yang tidak memiliki mesin kecerdasan itu? Tentu tidak, karena Tuhan telah memberikan kita seperangkat daging lunak yang disebut otak. Sehingga pastilah semua peserta didik BERPOTENSI untuk genius sampai pada taraf kompetensi maksimal. Lalu, mengapa ada peserta didik yang sulit memahami pelajaran? Menjawab pertanyaan ini: Bacalah kisah Tina, Demira, Kohoy, dan Christian. Mereka adalah anak-anak asal Papua yang dianggap paling bodoh. Tina sendiri empat tahun tidak naik kelas. Namun berkat “obat mujarab pengajaran” anak-anak Papua itu berhasil meraih empat emas, lima perak, tiga perunggu dalam kejuaraan kognitif matematika di China dan mereka berhasil menemukan alat pendeteksi tsunami. Bahkan Kohoy, bercitacita menjadi profesor matematika.

Mengajar yang Disukai Otak

Chatib dan Said (2012), menyebut empat tipe kemampuan menyerap informasi pelajaran pada setiap anak, yaitu:

1. Tipe pembelajar cepat (fast learner).
Ciri umum anak yang memiliki tipe pembelajar cepat adalah sangat mudah memahami pengetahuan yang diinformasikan. Biasanya anak dengan tipe ini, sekali guru menjelaskan anak langsung dengan mudah memahami, hanya butuh sekali pengulangan anak dengan sangat mudah memahami isi materi.

2. Tipe pembelajar normal (normaly learner).
Anak dengan tipe pembelajar normal membutuhkan sekali sampai tiga kali pengulangan materi ajar agar memahami isi materi ajar.

3. Tipe pembelajar lambat (slow learner).
Anak dengan tipe pembelajar lambat adalah anak yang memerlukan waktu pengulangan yang sering. Guru membutuhkan beberapa kali pengulangan (bisa lebih dari 3-6 x) agar anak bisa memahami materi. Tipe belajar anak ini merespons dengan lambat informasi materi yang diterimanya. Anak dengan tipe ini memiliki hambatan belajar yang sangat besar dibanding anak dengan tipe pembelajar normal.

4. Pembelajar sangat lambat (very slow learner).
Umumnya, anak yang berada pada tipe ini adalah anak kategori berkebutuhan khusus. Tipe anak ini, amat sangat lambat memahami isi materi dikarenakan alasan medis dan psikologis (mental). Empat tipe kemampuan menyerap informasi pelajaran pada anak adalah deskripsi mengenai kecepatan memahami konteks materi ajar. Tipe nomor berapa anak kita berada sangat dipengaruhi oleh kualitas edukasi dalam keluarga dan sekolah sejak usia balita atau 0 sampai 7 tahun pertama. Semakin tidak berkualitas model edukasi keluarga dan sekolah, maka semakin besar peluang anak memiliki tipe nomor 4 dan 3.

Mengajar yang Disukai Otak

Jika faktanya, tidak ada anak yang BODOH, yang ada anak yang memiliki HAMBATAN BELAJAR. Maka, ada solusi cara membuka hambatan belajar anak. Ada dua cara membuka tirai hambatan belajar anak: pertama, apersepsi in the class, kedua, strategi mengajar sesuai gaya belajar anak. Penggunaan apersepsi di dalam kelas (apersepsi in the class) meliputi: alfa zona (zona fokus), warmer, scene setting, dan pre teach. Adapun, strategi mengajar multiple intelligences, dapat dilihat pada halaman berikut ini.

Strategi mengajar dan pendekatan multiple intelligences pada gambar di atas:
  1. Pengamatan (logis-matematis, naturalis).
  2. Tanya jawab (linguistik).
  3. Wawancara (linguistik, interpersonal).
  4. Demonstrasi (kinestetik, interpersonal).
  5. Merangkai pola (spasial-visual, kinestetik, interpersonal).
  6. Eksperimen (logis-matematis).
  7. Tebak kata, mengurut pola berdasarkan kriteria kata (linguistik, logis-matematis).
  8. Curah gagasan (linguistik, logis-matematis).
Demikianlah kiranya Informasi mengenai Mengajar yang Disukai Siswa dan Otak yang bisa menjadi bahan bacaan bapak/Ibu Guru untuk lebih teliti lagi dalam pengelolaan kelas yang baik terutama yang berkaitan dengan siswa.
Mengajar yang Disukai Siswa dan Otak ini merupakan salah referensi yang baik dan benar sesuai harapan anda, bisa digunakan untuk Artikel dengan demikian file tersebut bisa memenuhi dan mengakhiri pencarian di Google.