Selasa, September 24, 2019

3 Kriteria Siswa Pintar dan Rahasianya

Niki Ali Akbar
Info Berkas Sekolah - Semua Guru pastinya menginginkan siswa siswi didkannya menjadi Pintar. Banyak cara yang dilakukan untuk itu dimulai dari Metode Pembelajaran, Model Pembelajaran, Pengelolaan kelas yang baik sampai dengan adanya bimbingan belajar dan les di sekolah tentu dengan menyita waktu yang cukup banyak.

Namun sebelumnya harus diketahui bahwa kemampuan siswa (anak) tidak semuanya sama, maka dari itu kami akan mencoba membahas secara detail dan lengkap dalam artikel 3 Kriteria Siswa Pintar dan Rahasianya.


3 Kriteria Siswa Pintar dan Rahasianya



3 Kriteria Siswa Pintar 

Secara sederhana, fungsi sekolah dan tugas guru adalah membentuk siswa pandai dengan indikator 3 kriteria. Seperti apa klasiikasi 3 kriteria itu? Berikut indikatornya:


1. Kriteria psikoafektif, merupakan perilaku-perilaku yang memenuhi unsur-unsur etika atau nilai-nilai yang ditunjukkan oleh siswa, di antaranya:

a. Siswa memiliki respons terhadap setiap materi pelajaran. Indikatornya:
  • Respons siswa terhadap materi pelajaran yang ditunjukkan melalui perhatian saat guru menerangkan.
  • Respons siswa terhadap umpan balik dalam menjawab pertanyaan guru.
  • Respons siswa terhadap pengumpulan tugas sesuai jadwal yang diberikan guru.
  • Respons siswa terhadap suasana kelas, khususnya dalam suasana belajar mengajar.
b. Siswa memiliki respons terhadap guru. Indikatornya:
  • Siswa menghargai dan menghormati guru, melalui ucapan salam dan salim.
  • Siswa berperangai baik (soleh dan solehah), yang ditunjukkan melalui ketaatan terhadap aturan sekolah.
c. Siswa memiliki respons terhadap teman. Indikatornya:
  • Siswa menunjukkan perilaku bersahabat kepada semua teman.
  • Siswa menunjukkan perilaku menghormati ke sesama teman.
  • Siswa berempati terhadap teman ditunjukkan melalui aktivitas tolong-menolong.
d. Siswa memiliki respons terhadap lingkungan sekitar. Indikatornya:
  • Lingkungan sekolah yang bersih.
  • Siswa membuang sampah pada tempatnya.
  • Siswa menjaga kebersihan lingkungan sekolah yang ditunjukkan lewat piket kebersihan yang terjadwal.
e. Siswa memiliki respons terhadap aturan sekolah. Indikatornya:
  •  Berperilaku disiplin.
  •  Berperilaku sopan dan santun terhadap guru.
  •  Berperilaku taat terhadap aturan sekolah (taat aturan).

2. Kriteria psikomotorik, merupakan aktivitas siswa yang ditunjukkan melalui keterampilan yang memenuhi unsur estetika dari sebuah karya, di antaranya:

a. Kemampuan menyampaikan pendapat/ide dan gagasan yang ditunjukkan melalui argumentasi. Indikatornya:
  • Siswa terampil dalam berargumentasi secara lisan.
  • Siswa terampil menuangkan ide/gagasan serta pendapat melalui bahasa tulisan yang ditunjukkan melalui karya ilmiah, opini, artikel atau melalui surat pembaca.
b. Kemampuan menghasilkan karya. Indikatornya:
  • Siswa terampil melakukan aktivitas percobaan/eksperimen laboratorium.
  •  Siswa terampil dalam hal seni, seperti: memainkan alat musik, bernyanyi.
  •  Menghasilkan karya-karya seni, seperti: lukisan dan karya olah tangan lainnya.
c. Kemampuan dalam bidang olahraga. Indikatornya:
  •  Siswa terampil dalam bidang olahraga.
  •  Siswa terampil dalam memainkan alat-alat olahraga.
3. Kriteria kognitif, merupakan aktivitas akademik yang ditunjukkan melalui kemampuan menjawab soal, yang distandardisasi dengan logika benar-salah, di antaranya:

a. Kemampuan menyelesaikan masalah dengan baik dan menjawab soal dengan benar. Indikatornya:
  • Nilai mata pelajaran memenuhi ketuntasan.
Konsep pandai 3 kriteria telah menjadi Standar Kompetensi Lulusan pada Kurikulum 2013. Kriteria siswa pintar di atas harus dilihat secara manusiawi. Anak dengan kapasitas psikoafektif yang baik, sudah selayaknya disebut pintar/pandai, walau sang anak lambat secara kognitif-akademik. Anak dengan kemampuan psikomotorik baik walau bermasalah dalam bidang kognitif-akademiknya, juga selayaknya disebut pintar/pandai, begitu pun sebaliknya. Rahasia mengenai siswa pintar hanyalah paradigma. Bagaimana cara pandang kita terhadap luasnya kemampuan anak adalah yang lebih penting dari sekadar angka.

Rahasia Siswa Pintar

Ketika tampil pada acara Kick Andy, Yohanes Surya membuktikkan bahwa tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah mereka belum menemukan guru terbaik dan metode yang tepat. Alhasil, keempat siswa yang dianggap paling bodoh dari Papua menjuarai Olimpiade matematika-sains tingkat Asia, setelah mereka belajar sesuai cara otak manusia belajar.

Banyak kejadian yang kita dengar, bahwa siswa-siswa ini adalah siswa bodoh. Namun ketika kita bertanya, seperti apakah jenis kebodohan siswa-siswa itu? Jawabannya adalah, mereka memiliki nilai  sangat rendah pada pelajaran tertentu. Saat siswa-siswa lain, memiliki nilai tertinggi pada pelajaran tertentu, namun dengan kelemahan perilaku sosial dan emosional, mereka tetap dianggap anak yang pintar. Sepertinya: paradigma sesat ini telah menjadi kebudayaan sekolah/guru dan orangtua di Indonesia.

Berikut sebuah kisah mengenai kapan yang pintar menjadi bodoh yang diceritakan Goleman dalam Emotional Question.

“Jason H: siswa kelas dua yang nilainya selalu A di SMU Coral Spring, Florida, bercita-cita masuk Fakultas Kedokteran. Bukan sekadar Fakultas Kedokteran—ia memimpikan Harvard. Tetapi, Pologruto, guru isikanya, memberi Jason nilai 80 pada sebuah tes. Karena yakin bahwa nilai itu yang hanya B—akan menghalangi cita-citanya, Jason membawa sebilah pisau dapur ke sekolah dan, dalam suatu pertengkaran dengan Pologruto di laboratorium isika, ia menusuk gurunya di tulang selangka sebelum dapat ditangkap dengan susah payah.

Hakim memutuskan bahwa Jason tidak bersalah, karena pada saat itu ia dianggap gila untuk sementara selama peristiwa tersebut— Sebuah panel terdiri atas empat psikolog dan psikiater bersumpah bahwa ia gila selama perkelahian itu. Jason mengatakan bahwa, ia telah berencana untuk bunuh diri karena nilai tersebut, dan pergi menemui Pologruto untuk mengatakan kepadanya bahwa ia akan bunuh diri karena nilai yang buruk itu. Pologruto menyampaikan cerita yang berbeda: “Saya rasa ia betul-betul mencoba membunuh saya dengan pisau itu,” karena ia sangat marah atas nilai tersebut.

Setelah pindah ke sekolah swasta, Jason lulus dua tahun kemudian sebagai juara kelas. Nilai sempurna dari kelas reguler akan memberinya angka A bulat, rata-rata 4,0, tetapi karena Jason telah mengikuti cukup banyak kursus lanjutan maka nilai rata-ratanya menjadi 4,614—jauh di atas A+. Meskipun Jason lulus dengan nilai terbaik, guru isikanya yang lama, David Pologruto, mengeluh bahwa Jason tak pernah minta maaf atau mau bertanggung jawab atas serangan tersebut.”

Daniel Goleman, mengidentiikasikan mengenai “kapan yang pintar menjadi bodoh” adalah ketika kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir; berempati dan berdoa; dan manajemen sabar saat tercipta kondisi emosional. Jelas bahwa, perilaku bodoh tidak ditunjukkan oleh perolehan angka dari hasil ulangan, tetapi dari ketidakmampuan mengolah perilaku emosional.

Itulah kiranya berbagi Informasi mengenai "3 Kriteria Siswa Pintar dan Rahasianya" semoga bisa menjadi Bahan bacaan yang bermanfaat untuk lebih baik lagi dalam melayani peserta didik di sekolah. Sekian dan Terima Kasih.
3 Kriteria Siswa Pintar dan Rahasianya ini merupakan salah referensi yang baik dan benar sesuai harapan anda, bisa digunakan untuk Artikel dengan demikian file tersebut bisa memenuhi dan mengakhiri pencarian di Google.